Banjir di Malang: Interaksi antara Faktor Alam, Infrastruktur, dan Perilaku Masyarakat

Dari Doku Nihla
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Pendahuluan

Banjir merupakan salah satu bencana alam yang sedang disoroti oleh masyarakat dan pemerintah Indonesia dikarenakan banyaknya kasus yang terjadi di Indonesia saat ini. Sepanjang 2025, banjir masih menjadi bencana hidrometeorologi yang paling sering terjadi di Indonesia. Data PDSI BNPB menunjukkan bahwa hingga 25 November 2025 telah terjadi 1.502 kejadian banjir di seluruh wilayah Indonesia. Angka ini memang belum melampaui rekor 2021 yang mencapai 1.794 kejadian, namun tetap menempatkan tahun 2025 dalam kategori risiko tinggi seiring meningkatnya fenomena cuaca basah sepanjang tahun. Salah satu yang sedang disoroti saat ini adalah banjir bandang di sumatera, yang diberitakan oleh CNN, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jumlah korban akibat bencana  banjir dan tanah longsor bertambah menjadi 969 orang per-rabu (10/12) Secara rinci, di wilayah Aceh dilaporkan sebanyak 391 jiwa, di Sumut sebanyak 340 jiwa dan di Sumbar sebanyak 238 jiwa. Sementara untuk korban hilang dan dalam proses pencarian di tiga provinsi itu tercatat sebanyak 252 jiwa. Rinciannya, di Aceh sebanyak 31 jiwa, di Sumut sebanyak 128 jiwa dan di Sumbar sebanyak 93 jiwa. Bencana banjir bandang dan longsor menyebabkan wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara (Sumut) luluh lantak. Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru menjadi salah satu desa yang terdampak cukup parah. Ratusan rumah hancur, hilang tersapu arus. Banjir bandang dan longsor menyisakan batu bercampur gelondongan kayu-kayu besar. Akses jalan di wilayah itu belum juga pulih. Jembatan penyeberangan yang selama ini digunakan warga kini rusak parah. Jalan satu satunya hanya bisa menggunakan perahu. Danyon C Pelopor Sat Brimob Polda Sumut, Kompol Zaenal Mukhlisin mengatakan saat ini warga yang terdampak bencana di Desa Garoga mulai dihantui penyakit. Petugas terpaksa melakukan evakuasi dengan menggunakan perahu. Berdasarkan data ini, dapat dilihat bahwa fenomena ini tidak hanya menyebabkan kerugian material berupa kerusakan infrastruktur dan harta benda, namun bencana ini juga mengakibatkan banyak kematian, mengganggu aktivitas ekonomi dan membawa masalah kesehatan yang serius kepada masyarakat. Penyebabnya seringkali multifaktorial, berupa intensitas curah hujan yang tinggi, degradasi lingkungan berupa deforestasi dan alih fungsi lahan, serta buruknya tata kelola drainase perkotaan.

Berlandaskan pada fenomena banjir yang terjadi di Sumatra dan faktor penyebabnya, tidak menutup kemungkinan hal yang sama bisa terjadi di kota-kota besar, seperti Malang. Dalam beberapa waktu terakhir, Malang mulai menunjukkan  peningkatan frekuensi banjir di berbagai titik, terutama saat musim hujan. Hal ini menunjukkan bahwa Malang telah memasuki fase di mana banjir menjadi ancaman yang semakin nyata. selain itu, hal ini juga didukung dengan pernyataan kepala BPDB kota malang yang dilansir dari malangpagi.com pada Selasa, 9 Desember 2025, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, Prayitno mengungkapkan bahwa curah hujan di Kota Malang meningkat secara signifikan hingga 40%. Hal ini menjadikan banjir di Kota Malang pada tahun 2025 yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain faktor alam, infrastruktur di Kota Malang juga turut andil sebagai penyebab banjir. "Kalau berdasarkan pemantauan kami, rata-rata akibat banyaknya endapan sampah di saluran air. Hal ini mengakibatkan alir terhambat dan meluber keluar ke jalan-jalan," terang Wali Kota Malang pada Selasa (9/12/2025) sesuai dengan yang dipaparkan oleh IDNTIMES. Mengingat frekuensi dan dampak destruktifnya yang terus meningkat, kami akan membahas lebih lanjut mengenai akar masalah banjir di Malang.

Isi

Salah satu faktor utama terjadinya banjir di Malang adalah faktor alam. Curah hujan yang tinggi yang berlangsung lama dapat meningkatkan debit air yang sangat besar di sungai dan saluran. Hal ini sesuai dengan studi yang dilakukan oleh Tri Dhika Riantiningsih (2023), dari data BPBD pada tahun 2022 yang menyatakan bahwa intensitas hujan yang tinggi merupakan salah satu penyebab terjadinya banjir di Kota Malang. Hal ini selaras dengan penelitian dari Rochmad dan Wahyudi (2023), peristiwa banjir di Malang pada tanggal 17 Oktober 2022 terjadi karena kondisi atmosfer yang tidak stabil dan pembentukan awan Cumulonimbus yang memicu curah hujan tinggi. Fenomena ini menandakan bahwa faktor alam memiliki peran signifikan dalam terjadinya banjir. Selain itu, menurut Arriza (2016), curah hujan yang tinggi di daerah hulu menjadi salah satu pemicu utama banjir. Ketika hujan turun dengan intensitas besar dalam waktu singkat, tanah di daerah hulu sering kali tidak mampu menyerap seluruh volume air. Dengan demikian, kombinasi curah hujan yang tinggi dan ketidakmampuan daerah hulu untuk menyerap air hujan menjadi pemicu utama terjadinya banjir di Malang.

Selain faktor alam, faktor non-alam seperti sistem drainase yang kurang memadai dan tata ruang yang tidak terkontrol sering kali memperparah dampak dari curah hujan yang tinggi tersebut. seperti yang disampaikan oleh wali kota Malang, Wahyu Hidayat bahwa salah satu penyebab terjadinya banjir adalah sampah yang mengendap di dasar saluran air, mengindikasikan bahwa sistem drainase di Kota Malang kurang efektif. Selain itu, menurut  Mohammad Muhibbin, dkk (2020), maraknya perumahan baru (real estat), pusat perbelanjaan Modern dan rumah toko (Ruko) di Kota Malang, saat ini dinilai menjadi penyebab munculnya lokasi-lokasi banjir baru di Kota Malang. Area resapan air yang diubah menjadi daerah perumahan menyebabkan air hujan sulit meresap. Maraknya lahan resapan air yang dialihfungsikan menyebabkan air langsung mengalir ke permukaan, dan akhirnya memicu genangan serta banjir di lokasi yang sebelumnya tidak pernah banjir. Pernyataan ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hasanah, dkk (2022), bahwa pada umumnya daerah pemukiman memiliki kemampuan resapan air yang rendah. Maka dari itu, aspek infrastruktur seperti sistem drainase dan penyediaan area resapan air yang kurang baik berpotensi menyebabkan banjir.

Selain faktor alam dan infrastruktur, manusia juga menjadi faktor yang berperan pada terjadinya banjir. Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai sistem drainase berpengaruh terhadap penjagaan lingkungan (Achmad Sutan Dzulkarnain, dkk 2023). Untuk mengetahui tingkat kesadaran masyarakat Malang kami melakukan survei melalui gform secara daring yang menargetkan berbagai kelompok masyarakat Malang, yakni mulai dari warga perumahan, pedagang pasar, hingga mahasiswa. Kami merancang serangkaian pertanyaan yang menyinggung persoalan pencegahan banjir dan menjaga kebersihan. Berdasarkan hasil survei tersebut, pada dasarnya masyarakat Malang telah menunjukkan pemahaman yang cukup baik dalam menjaga lingkungan. Mereka juga memahami bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama dan memiliki dampak besar terhadap kualitas hidup. Namun, hasil jawaban partisipan menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat belum sepenuhnya tercipta. Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang tahun 2025, menunjukkan bahwa jumlah timbulan sampah di Kota Malang yang setiap harinya mencapai 731,29 ton/hari. Hal ini menunjukkan kurangnya kesadaran dan edukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah yang efektif. Tumpukan sampah (terutama plastik) dapat menghambat aliran sungai, mengurangi kemampuan tanah menyerap air, dan mengendap menjadi lumpur, memperparah genangan dan banjir saat musim hujan tiba, seperti yang sering terjadi di berbagai daerah.  Dengan demikian, kurangnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah dapat memperbesar risiko terjadinya banjir, khususnya di daerah Malang.

Penutup

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa banjir yang terjadi di Malang tidak hanya disebabkan oleh faktor alam seperti curah hujan yang tinggi. Namun, faktor non-alam seperti tata kelola infrastruktur yang kurang baik dan kurangnya kesadaran masyarakat juga menjadi pemicu terjadinya banjir di Malang. Dengan demikian, partisipasi dari berbagai pihak memiliki peran dalam pencegahan banjir, termasuk perbaikan tata kelola air, pembangunan infrastruktur yang adaptif, serta peningkatan kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan lingkungan.